SIKAP IMAN YANG BENAR

SIKAP IMAN YANG BENAR

Markus 5 : 25 – 34

Khotbah Minggu, Yuenlong

Tgl 21 Juli 2019

Penatua: Sestu Wigati

 

Didalam perjalanan menjalani kehidupan ini, kita tak luput dari suatu kendala atau rintangan, entah itu berupa sakit penyakit, pekerjaan ataupun hal2 lainnya.

Namun dalam mengambil sikap masing2 orang berbeda. Ada yang tetap semangat dan terus optimis untuk berjuang, dan ada pula yang pesimis, dan akhirnya menyerah.

Sebuah contoh yang sangat luar biasa dari Alkitab, yaitu perempuan yang menderita sakit pendarahan selama 12 tahun, sampai2 karena spektakulernya peristiwa tersebut, ada tercatat dalam 3 kitab Injil yaitu Matius, Markus dan Lukas.

Ada seorang perempuan yang sakit pendarahan selama 12 tahun, dia sudah berobat kemana-mana, berbagai cara pengobatan telah dia jalani, namun tidak dapat sembuh, bahkan sampai habis hartanya, tetapi tetap tidak bisa sembuh.

Hidup di masa itu ada dalam naungan hukum Musa, yaitu bila perempuan pendarahan adalah najis, artinya dia tidak boleh menyentuh dan disentuh, barangsiapa kena sentuh, maka najislah orang tersebut sampai matahari terbenam, dan harus mandi dan mencuci pakaiannya.

Betapa sangat menderita perempuan itu, dia sakit tetapi tidak ada yang datang menjenguk, memeluk untuk menguatkan, ataupun mengusap rambutnya untuk sekedar memberi dukungan.

Apa saja yang perempuan tersebut alami:

  1. Secara sosial : dikucilkan / didiskriminasi.
  2. Secara medis : tubuhnya lemah, karena kekurangan darah.
  3. Secara rohani : tidak bisa ibadah / ikut persekutuan.
  4. Secara ekonomi: kehabisan uang / harta.

 

Ayat 27 – 29 :

Tetapi perempuan ini pernah mendengar tentang Yesus dan apa yang telah Yesus perbuat. Didalam keadaannya yang tidak punya apa2 dan tidak punya siapa2 ini, perempuan ini menaruh harapannya kepada Yesus.

Kebetulan saat itu Yesus lewat dalam perjalanan akan menyembuhkan anaknya Yairus (ketua sinagoga) bersama banyak orang yang mengikutiNya. Perempuan itu menguatkan hatinya dan mendatangi Yesus. Katanya :”Asal ku jamah jubahNya, mak aku akan sembuh”.

Iman yang luar biasa, asal ku jamah jubahNya, aku pasti sembuh. Maka terjadilah seperti yang di imaninya, maka seketika itu juga sembuhlah ia. Tidak ada percakapan antara mereka, Yesus tidak berkata: “maukah kau Ku sembuhkan”, atau perempuan itu berkata: ” Yesus, tolonglah… sembuhkanlah aku”. Tapi itulah cara Tuhan, Tuhan Yesus sanggup menolong dengan caraNya.

 

Ayat 30 – 32

Tuhan Yesus yang merasakan ada kuasa yang keluar dari tubuhNya, dan bertanya :” Siapa yang menjamah aku”. MuridNya memang tidak mengerti apa yang telah terjadi, yang dia tahu saat itu memang banyak orang di sekeliling Yesus, dan tentu saja telah bersentuhan dengan orang2 yang didekatNya.

Telah terjadi kontak fisik dan rohani, sehingga ada kuasa yang keluar dari Tuhan Yesus, dan itu hanya Tuhan Yesus saja yang tahu.

Ayat 33 :

Perempuan yang telah sengaja  menjamah jubah Tuhan Yesus, menjadi takut setelah perbuatannya diketahui Tuhan Yesus.Maka ia maju dan tersungkur didepan Yesus dan mengatakan dengan sejujurnya apa yang telah dia perbuat dan mengapa dia melakukan perbuatan itu.

Ayat 34:

Maka kata Yesus kepada perempuan:” Hai anakKu,imanmu telah menyelamatkan engkau.Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu”.

Ketika bertemu dengan Yesus, perempuan itu bukan hanya sembuh dari penyakitnya, tetapi disembuhkan juga dari dosanya, yaitu mendapat karunia /anugerah keselamatan ( hidup kekal).

 

Dari kisah ini ada pelajaran yang sangat bagus untuk dicontoh, yaitu:

MILIKI SIKAP IMAN YANG BENAR

  1. Percaya Dan Pegang Teguh.

Seperti perempuan yang sakit pendarahan itu, dengan iman yang sangat luar biasa, “asal ku jamah jubahNya, aku pasti sembuh”. Bukan jubahNya atau caranya, yaitu dengan menjamah jubahNya yang memberi kesembuhan, tetapi imannya kepada Tuhan Yesus, itu yang menyembuhkan .

  1. Nyatakan Dalam Tindakan

Ketika perempuan itu telah sampai pada batas kemampuannya, yaitu telah kehabisan biaya untuk berobat, dia menaruh pengharapannya kepada Tuhan Yesus, karena telah mendengar semua yang telah Yesus lakukan.

Asal kujamah jubahNya, aku pasti sembuh. Perempuan itu tidak hanya berkata demikian, tetapi dia melangkah, mendatangi Tuhan Yesus diantara kerumunan banyak orang , dan menjamah jubahNya. Maka kesembuhan dia dapatkan (iman tanpa perbuatan mati).

  1. Berani Bersaksi Walau Takut

Bila kita telah menerima pertolongan dari Tuhan, kita harus berani bersaksi. Kita sampaikan bagaimana keadaan kita sebelum menerima / bertemu dengan Tuhan Yesus, dan bagaimana cara kita bertemu dengan Tuhan Yesus serta bagaimana keadaan kita setelah kita mengalami / bertemu dengan Tuhan Yesus. Walau mungkin ada rasa takut, tetapi kita harus berani menyaksikannya, agar dapat memberkati banyak orang .

Seperti perempuan yang sakit pendarahan ini, mengapa harus menunggu 12 tahun, baru bertemu Tuhan Yesus? Waktu kita bukan waktu Tuhan, dan akhirnya kesaksian perempuan itu menjadi sangat spektakuler, dan ditulis didalam 3 kitab Injil.